Koordinator I Jamdatun Kejagung RI, Ferry Tass., Dt. Toembidjo: Ramadhan Membangun Lima Kecerdasan Insani

$rows[judul]

Filosofinews.com., Bekasi, (06/03) — Momentum Nuzulul Qur’an pada malam ke-17 Ramadhan dimaknai secara mendalam oleh jamaah Masjid Jejak Wali, Perumahan Purigading Jati Melati, Bekasi, Jumat malam. Ba’da shalat Isya dan Tarawih, puluhan jamaah mengikuti kuliah tujuh menit (kultum) Ramadhan yang disampaikan oleh Koordinator I pada Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) Kejaksaan Agung RI, H. Ferry Taslim, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo.

Dalam ceramahnya, Ferry Tass., Dt. Toembidjo menegaskan bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah madrasah kehidupan yang mendidik manusia menuju kualitas ketakwaan yang lebih tinggi.

“Kalau puasa hanya menahan lapar dan haus, itu baru sebatas latihan menahan diri. Padahal yang Allah kehendaki dari puasa adalah perubahan kualitas diri menuju derajat ketakwaan,” ujar beliau.

Menurut beliau, Ramadhan merupakan momentum pendidikan spiritual yang membentuk manusia secara utuh, tidak hanya pada dimensi ibadah, tetapi juga pada dimensi kepribadian dan kehidupan sosial.

Dalam kultum bertema “Meraih Lima Kecerdasan pada Puasa Ramadhan menuju La’allakum Tattaqun”, Ferry Tass., Dt. Toembidjo menjelaskan bahwa puasa sejatinya melatih umat Islam untuk membangun lima kecerdasan insani secara seimbang, yaitu:

1. Kecerdasan Jasmani
Puasa mendidik manusia menjaga kesehatan dan kedisiplinan tubuh. Dengan pengendalian pola makan, pengaturan waktu, serta keseimbangan antara aktivitas dan ibadah, tubuh dilatih menjadi lebih sehat dan terkontrol.

2. Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient)
Ramadhan menjadi momentum memperkuat hubungan manusia dengan Allah melalui peningkatan kualitas ibadah, zikir, doa, serta kedekatan spiritual yang lebih mendalam.

3. Kecerdasan Intelektual (Intellectual Quotient)
Puasa juga mengajak umat Islam memperkaya wawasan dengan membaca, memahami, serta mentadabburi Al-Qur’an sebagai sumber ilmu dan pedoman kehidupan.

4. Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient)
Ramadhan melatih manusia mengendalikan emosi, menahan amarah, serta menjaga akhlak dalam berbagai situasi kehidupan.

5. Kecerdasan Sosial (Social Quotient)
Melalui semangat berbagi, sedekah, dan kepedulian terhadap sesama, Ramadhan menumbuhkan empati serta memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.

Lebih lanjut, Dt. Toembidjo menjelaskan bahwa proses membangun lima kecerdasan tersebut dapat dilakukan melalui tiga langkah sederhana dalam pendidikan Ramadhan sebagai bulan tarbiyah.

Pertama, Ibda’ binafsihi, yaitu memulai perubahan dari diri sendiri.

“Perubahan tidak akan terjadi jika kita hanya menunggu orang lain berubah. Ramadhan mengajarkan kita untuk memulai perbaikan dari diri sendiri,” ujarnya.

Kedua, memulai dari hal-hal sederhana, seperti memperbaiki kembali tata cara wudhu, meningkatkan kualitas shalat, serta membiasakan membaca Al-Qur’an setiap hari.

Ketiga, tidak menunda waktu untuk berubah.

Menurutnya, separuh Ramadhan yang masih tersisa harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki diri.

“Selama Ramadhan masih berlangsung, selalu ada kesempatan bagi kita untuk meningkatkan kualitas ibadah,” pesannya.

Selain dikenal sebagai pejabat di lingkungan Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Ferry Tass juga merupakan Niniak Mamak Minangkabau dari Suku Melayu yang menyandang gelar adat Dt. Toembidjo. Dalam kapasitasnya sebagai tokoh adat, beliau aktif dalam berbagai kegiatan sosial, keagamaan, serta pembinaan masyarakat Minangkabau di berbagai daerah.

Komitmennya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan juga tercermin dari aktivitas akademiknya saat ini sebagai Mahasiswa Program Doktor (S3) Ilmu Hukum di Universitas Hasanuddin Makassar.

Melalui momentum Nuzulul Qur’an, Dt. Toembidjo mengajak umat Islam menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup sekaligus sumber kecerdasan yang membentuk manusia secara utuh. Nilai tersebut selaras dengan falsafah Minangkabau Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, yang mengajarkan bahwa adat dan kehidupan masyarakat harus bertumpu pada syariat, sementara syariat itu sendiri bersandar kepada Al-Qur’an sebagai sumber kebenaran.

“Jika lima kecerdasan ini tumbuh dalam diri seorang muslim, maka puasa tidak hanya menjadi ibadah ritual, tetapi menjadi jalan menuju derajat La’allakum Tattaqun, yakni manusia yang benar-benar bertakwa,” tutup beliau.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)